Rabu, 25 Maret 2015

Mengapa Orang Tibet Mampu Bertahan Dengan Oksigen Rendah?



2014
Bagaimana fisik manusia yang hidup di dataran tinggi Tibet mampu bertahan dengan kondisi oksigen rendah? Sebuah lingkungan dimana orang lain tengah berjuang untuk bertahan hidup, orang Tibet berkembang dengan oksigen tipis di ketinggian rata-rata 14800 kaki. 
Salah satu studi University of Utah telah menemukan penyebab adaptasi genetik, dasar pasangan DNA perubahan tunggal yang sudah terjadi sejak 8000 tahun lalu. Studi ini menjelaskan bagaimana kontribusi kemampuan orang Tibet bertahan hidup dalam kondisi oksigen rendah. Hasil analisis ini dipublikasikan secara online dalam jurnal Nature Genetics edisi 17 Agustus 2014.

Mutasi Genetik Orang Tibet Sejak 8000 Tahun Lalu

Menurut Josef Prchal MD, seorang profesor penyakit dalam dari University of Utah, penemuan ini membantu ilmuwan memahami aspek unik tentang adaptasi manusia di dataran tinggi Tibet dan lebih memahami evolusi manusia. Awalnya, kisah ini dimulai sejak adanya diplomasi kebudayaan. Prchal pernah berwisata beberapa kali ke Asia untuk bertemu dengan para pejabat China dan perwakilan dari pengasingan Tibet di India, hal ini untuk mendapatkan izin untuk merekrut subyek penelitian. Tapi mereka menolak menyumbangkan darah  orang Tibet untuk penelitian genetik.

Orang Tibet, Ladakh
Setelah kembali ke AS, Prchal menemukan penduduk asli Tibet (Tsewang Tashi MD) baru bergabung dengan Huntsman Cancer Institute di University of Utah sebagai sesama klinis. Ketika Prchal meminta bantuannya, Tashi menyetujuinya. Tashi mengatakan, bahwa semua implikasi ini tidak hanya untuk ilmu pengetahuan secara keseluruhan, tetapi juga untuk memahami apa artinya menjadi orang Tibet. Prchal juga menerima surat yang ditunggu-tunggu didukung Dalai Lama, dua faktor yang berperan dalam melibatkan kepercayaan orang Tibet dimana mereka secara sukarela bergabung dalam penelitian ini.
DNA orang Tibet memiliki kisah menarik sekitar 8000 tahun yang lalu, gen EGLN1 diubah oleh pasangan basa DNA tunggal. Saat ini, 88 persen orang Tibet memiliki variasi genetik dan hampir tidak terkait erat dengan orang Asia dataran rendah. Adaptasi genetik cenderung menyebabkan perubahan lain pada tubuh yang belum dipahami, salah satu dari berbagai perubahan genetik yang belum teridentifikasi secara kolektif mendukung kehidupan manusia didataran tinggi.
Prchal berkolaborasi dengan para ahli seluruh dunia untuk menentukan keuntungan menjadi orang Tibet. Mereka tanpa adaptasi, oksigen rendah menyebabkan darah orang Tibet menjadi tebal dengan sel darah merah pembawa oksigen yang berfungsi sebagai pemberi makan jaringan dalam tubuh, dan dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang pada manusia yang hidup normal, seperti gagal jantung. Variasi genetik ini ternyata telah melindungi orang Tibet dengan mengurangi over-respon terhadap oksigen yang rendah.

Implikasi dari penelitian ini melampaui evolusi manusia, karena oksigen memainkan peran utama dalam fisiologi manusia dan penyakit. Prchal mengatakan, pemahaman ini sangat mendalam terkait bagaimana adaptasi dataran tinggi bisa mengarah pada pengobatan baru berbagai penyakit, termasuk kanker. Orang Tibet bisa beradaptasi lebih baik untuk hidup di dataran tinggi, awalnya mereka akan mengalami sedikit penyesuaian dan selanjutnya akan terbiasa.

Naia, Kerangka Gadis Remaja Amerika 12500 Tahun Lalu



2014
Alberto Nava Blank dari Proyecto de Espeleologia de Tulum dan timnya menemukankerangka gadis remaja utuh, Naia, yang hidup sekitar 13,000 hingga 12,000 tahun lalu di Mexico. Temuan ini menjawab misteri lama tentang hubungan manusia Amerika pertama (Paleoamerica) dan penduduk asli Amerika modern, ilmuwan dari Aarhus University kini telah berhasil menentukan usia kerangka gadis remaja secara akurat.
Dr Thimas Stafford Jr dari Aarhus University telah berhasil menentukan usia kerangka gadis remaja yang diberi nama Naia. Temuan ini diterbitkan dalam jurnal Science edisi May 2014, dimana dia menerangkan bahwa manusia 9000 tahun lalu mamiliki atribut morfologi khas penduduk asli Amerika. Kombinasi unik sebuah kerangka remaja Paleoamerica dengan DNA Haplotype penduduk pribumi Amerika.

Naia, Kerangka Gadis Remaja Nenek Moyang Amerika

Tim penyelam menemukan kerangka gadis remaja Amerika bersamaan dengan sisa-sisa reruntuhan tanah raksasa, gomphotheres, dan beberapa hewan punah lainnya terendam dalam sistem gua Sac Actun dibagian timur Semenanjung Yucatan, Mexico pada tahun 2007 lalu. Temuan ini diberi nama Naia dan lokasi itu disebut Hoyo Negro karena gelap tak tembus oleh cahaya.
Sampai saat ini, fosil kerangka gadis remaja berukuran dewasa cukup lengkap untuk diteliti disisi morfologi, DNA mitokondria sangat terawat dan peneliti mampu mengungkap usia yang tepat. Dalam metode penanggalan tradisional dianggap tidak mampu memprediksi kapan kehidupan Naia berlangsung, karena tulang tereleminasi air asin hangat dalam sistema gua batu kapur sehingga diperlukan tehnik kombinasi yang unik.
Naia, Kerangka Gadis Remaja Amerika
Para tim peneliti DNA menggunakan data kenaikan permukaan air laut global untuk menentukan kapan Naia hidup didalam gua, dimana pada waktu itu sistem gua masih kering. Situs gua saat ini berada 40 meter dibawah permukaan laut dan kenaikan permukaan air laut naik ke daratan dan merendam semuanya sekitar 9700 hingga 10,200 tahun lalu.
Ilmuwan melihat akumulasi kalsium karbonat secara akurat menggunakan metode Uranium Thorium. Deposit air terbentuk di kerangka gadis remaja, seharusnya gadis ini hidup sekitar 12,000 tahun lalu. Dan penanggalan raidokarbon dari enamel DNA gigi Naia, gadis ini pernah hidup sekitar 12,900 tahun lalu. Menurut Profesor Kennett, mereka tidak bisa mengesampingkan enamel gigi yang terkontaminasi karbonat sekunder dari gua bawah laut, ilmuwan berusaha menghapusnya menggunakan teknik standar. 
Usia maksimal dikombinasikan dengan penanggalan Uranium Thorium, sehingga diperoleh hasil akhir asal usul kerangka Naia sejak 12,000 hingga 13,000 tahun lalu dimana kerangka gadis remaja ini masuk kedalam Paleoamerica.
Kerangka Manusia Pertama Amerika, Naia, kerangka manusia purba

Kerangka gadis remaja Naia tidak terlihat seperti bentuk kepala penduduk asli Amerika, tapi manusia asal Beringia menurunkan DNA mitokondria yang secara langsung tehubung dengan penduduk pribumi Amerika modern. Hal ini konsisten dengan hipotesis asal usul nenek moyang Amerika dari Beringia, sebuah daratan yang saat ini terendam diwilayah Siberia, Alaska dan Yukon.
Asal mula nenek moyang Amerika migrasi dari Asia dan tinggal selama beberapa waktu. Selama waktu itu, mereka mengembangkan Haplotype unik yang terjadi saat ini pada penduduk asli Amerika. Dimana hasil test genetik Paleoamerica, kerangka gadis remaja memiliki atribut yang sama dengan penduduk asli Amerika modern.

FOTO FOTO GUITAR



Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SG3C  1967 "Blue Banana"

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SG-12 solidbody 12-stringers

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SC-600 1981 with glossy transparent finish

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SG-40 Japanese-made singlecut solidbody electric guitar 1972

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SG-3

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Vintage Yamaha SG-12 twelve-string solidbody

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SG-2 circa 1966-67

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SA-30 vintage semi-hollowbody 1969

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SX 900 B

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SG45 1970

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SB2A bass 1960

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SGC2 1968 in Day-Glo Orange

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha Pacifica fingerboard kaca

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SA-17 bass

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SBV bass

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Thomas Silver's Custom Yamahas

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SGV 300

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SA 15

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SGV & SG-2C

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SC 400

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha SC 300T

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha Pacificia

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha EZ-EG dguitar digital

Foto foto gitar Elektrik Yamaha
Yamaha East West

Benarkah 'Tidak Semua Manusia' Keturunan Adam Hawa?



2014
Nenek moyang manusia atau lebih dikenal dengan Adam Hawa sebagai manusia modern pertama, ternyata usianya lebih awal daripada wanita dan hidup sekitar 209,000 tahun yang lalu. Penemuan ini berdasakan penelitian 'kromosom Y' yang dilakukan tim ilmuwan asal University of Sheffield untuk menentang penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa tidak semua 'kromosom Y' pria keturunan langsung dari Adam. Dengan kata lain bahwa studi terdahulu menduga adanya perkawinan silang dengan kerabat lain atau mungkin spesis lain.
Dalam penelitian yang dipimpin oleh Dr Eran Elhaik dari University of Sheffield dan Dr Graurdari University of Houston, menjelaskan temuan kromosom Y manusia. Baru-baru ini mereka menerbitkan temuan itu dalam sebuah jurnal genetik pada tanggal 22 Januari 2014, dimana keduanya menggunakan model biologis konvensional hingga nenek moyang laki-laki (Adam) bisa diprediksi awal kehidupannya di bumi.

Studi Kromosom Y, Misteri Manusia Keturunan Adam Hawa

Hasil penelitian Dr Elhaik menentang keras studi sebelumnya yang menyatakan adanya perkawinan silang antara manusia modern dan kerabat terdekat. Hal ini menjadi pertanyaan paling menarik diantara antropologi yang meneliti sejarah garis keturunan manusia, khususnyaAdam Hawa.
Tahun 2013 lalu, Michael Hammer ahli genetika dari University of Arizona menyatakan telah menemukan cabang genetik tertua yang disebut kromosom Y manusia, kromosom inilah yang menentukan jenis kelamin laki-laki. tetapi dalam sislsilahnya, terdapat banyak perbedaan sehingga tim ilmuwan Arizona menduga terjadinya perkawinan silang yang dibawa nenek moyang laki-laki. Ataukah secara tak langsung mereka menyatakan bahwa Adam kawin dengan 'kerabat dekat' atau 'sepesis lain' selain Hawa?

Manusia keturunan Adam Hawa
Menurut Hammer, garis keturunan yang menyimpang dari kromosom Y diduga hidup sekitar 338,000 tahun lalu saat manusia modern anatomis belum berkembang. Berbeda dengan kromosom manusia lainnya, sebagian besar kromosom Y tidak bertukar materi genetik dengan kromosom lain yang membuatnya mudah melacak hubungan antara garis keturunan Adam. Padahal ilmuwan saat ini banyak yang meyakini konsep Mitochindrial Eve (Adam kromosom Y)yang menegaskan semua manusia berasal dari sepasang manusia yang hidup pada titik tertentu dalam evolusi manusia.
Menurut Hammer, konsep ini merupakan kesalahpahaman besar dalam dunia genetik, silsislah genetik tunggal telah mencerminkan perbedaan populasi. Dia membuktikan adanya masyarakat genetik terisolasi yang juga melestarikan keragaman manusia. 
Sangat mungkin garis keturunan berbeda lainnya ditemukan di Eropa, Afrika, Amerika dan Asia. Atau mungkin dugaan yang dimaksud Hammer bahwa kaum pria tak sepenuhnya keturunan langsung Adam Hawa, ataukah Adam memiliki banyak istri?
Pendapat inilah yang ditolak keras oleh Dr Elhaik dan rekannya. Mereka membuktikan jika sebagian manusia bukan keturunan langsung dari Adam Hawa, maka garis keturunan seharusnya berubah dan banyak spesis berbeda yang bisa kita temukan saat ini.

Dr Elhaik Tegaskan, Pria Keturunan Adam Hawa

Prediksi ini ternyata berbeda, hasil mereka jauh lebih awal daripada penelitian sebelumnya yang saat ini diyakini menjadi bahan pertimbangan ilmu genetik. Adam jauh lebih tua dari Hawa, atau usianya dua kali lebih tua dari Hawa (usia 2 berbanding 1). Hawa dianggap sebagai nenek moyang yang membawa genetik manusia khususnya wanita. 
Ini bertentangan dengan penelitian terdahulu yang mengkalim kromosom Y (pria) manusia berasal dari spesis berbeda melalui perkawinan, dimana Adam berusia dua kali lebih tua.
Bagi Dr Elhaik membongkar teori ilmiah bukan hal baru, awal tahun ini mereka membantah pernyataan yang dikeluarkan oleh proyek Encode DNA. Dia menegaskan dengan beberapa kepastian bahwa manusia modern muncul di Afrika lebih dari 200,000 tahun yang lalu. Dia menjelasan bahwa manusia modern tidak kawin silang dengan hominim yang hidup lebih dari 500,000 tahun lalu. Tidak ada sebutan Adam sendirian (single) melainkan Adam dan Hawa hidup berdampingan dan mengembara bersama-sama.
Yang menarik, Dr Elhaik mengatakan bahwa Universitas Arizona tidak memiliki prestasi ilmiah apapun, bahkan hipotesis mereka menciptakan ruang paradoks dimana individu paling kunospesis Homo Sapiens belum lahir ikut andil dalam evolusi manusia modern. Jika hasil numerik studi sebelumnya menyimpulkan masa lalu dapat diubah dari garis keturunan ibu dimana Adam tidak mengawini istrinya. Hipotesis ini tentunya akan membawa spesis manusia (khususnya pria) hilang secara perlahan sebelum masa sekarang.

Senyawa


Senyawa adalah zat-zat yang tersusun atas dua unsur atau lebih yang bergabung secara kimia dengan perbandingan massa tertentu.
Air dan garam dapur merupakan salah satu contoh senyawa. Air dan garam dapur dikatakan senyawa karena tersusun atas dua unsur atau lebih. Air tersusun atas dua jenis unsur, yaitu hidrogen dan oksigen dengan perbandingan massa tertentu dan tetap. Garam dapur juga tersusun atas dua jenis unsur, yaitu natrium dan klorin dengan perbandingan massa tertentu dan tetap. Contoh lainnya, nitrogen dan hidrogen bergabung membentuk amoniak.

Suku Khoisa Tertua Di Dunia, Sejak 150 Ribu Tahun Lalu



2014
Tim ilmuwan dari Nanyang Technological University (NTU Singapore) dan Penn State University AS telah berhasil menemukan salah satu garis keturunan tertua pada manusia modern melalui urutan gen Khoisa. Khoisa adalah nama pemersatu bagi dua kelompok masyarakat Afrika Selatan, populasi ini memiliki karakteristik linguistik fisik dan diduga berbeda dari budaya Bantu. 
Menurut Profesor Stephan Christoph Schuster, temuan ini merupakan yang pertama kalinya menyebutkan tentang sejarah populasi manusia dianalisis dan disesuaikan dengan kondisi iklim bumi selama 200,000 tahun terakhir. Hasil studi ini diterbitkan dalam jurnal Nature Communications edisi 4 Desember 2014. Proyek ini melibatkan enam peneliti NTU dan Penn State University. Lembaga lain yang berpartisipasi termasuk Ohio State University dan Sao Paulo State University, Brasil. Prof Schuster akan terus berupaya mencari dan menemukan lebih banyak genetik non-campuran yang berada diwilayah lain, seperti di Amerika Selatan dan Asia Selatan (termasuk Indonesia) dimana suku terasing masih ada. 

Genom Tertua Suku Khoisa, Afrika Selatan

Khoisa berasal dari dua kata yaitu pencari makan yang disebut San, atau manusia semak belukar, dan Khoi pastoral dikenal sebagai Hottentots. San termasuk penduduk asli Afrika Selatansebelum migrasi Bantu selatan dari Afrika Tengah dan Timur mencapai wilayah mereka. Beberapa Khoi ditinggalkan pastoralism dan mengadopsi ekonomi pemburu-pengumpul dari San, mungkin karena iklim kering. Demikian pula, orang-orang Bantu Damara yang bermigrasi ke selatan kemudian meninggalkan pertanian dan mengadopsi ekonomi Khoi. Populasi Khoisa tetap berada didaerah kering, terutama di Gurun Kalahari.
Dalam studi sebelumnya, genom suku Khoisa telah dianalisis oleh tim yang sama pada tahun 2010. Studi baru kali ini menghasilkan urutan genom lengkap berkualitas tinggi yang memungkinkan analisis campuran dan sejarah populasi. Genom Afrika Selatan berkualitas tinggi memungkinkan penyelidikan lebih lanjut tentang sejarah populasi dan cabangnya.
pemburu pengumpul, suku khoisa
Para ilmuwan mengurutkan genom yang diambil dari lima orang suku pemburu-pengumpul yang hidup di Afrika Selatan, dan membandingkannya dengan 420,000 varian genetik pada 1462 genom yang diperoleh dari 48 kelompok etnis global. Dengan menggunakan analisis perhitungan canggih, tim ilmuwan menemukan bahwa suku Khoisa di Afrika Selatan secara genetik berbeda, tidak hanya dari Eropa dan Asia, tetapi juga dari semua orang Afrika lainnya.
Para ahli genetik juga menemukan keberadaan individu suku Khoisa dimana nenek moyang mereka tidak kawin silang dengan salah satu kelompok etnis lain selama 150,000 tahun terakhir. Khoisa merupakan kelompok mayoritas yang hidup pada periode waktu sekitar 20,000 tahun yang lalu. Analisis ini menggunakan pengurutan genetik guna mengungkap garis keturunan leluhur dari setiap kelompok etnis, bahkan hingga 200,000 tahun yang lalu. Jika ditemukan individu non campuran seperti kasus Khoisa, hal ini akan menunjukkan bukti terjadinya perubahan genetik penting bagi keturunan nenek moyang mereka, karena kawin silang atau migrasi terjadi selama berabad-abad.
Kelompok Khoisa, kaum pemburu dan pengumpul di Afrika Selatan selalu menganggap dirinya sebagai orang tertua. Studi ini membuktikan bahwa mereka termasuk salah satu yang paling kuno dalam garis keturunan manusia. Dan urutan genom berkualitas tinggi akan membantu ilmuwan lebih memahami sejarah populasi manusia. Data baru yang dikumpulkan memungkinkan ilmuwan lebih memahami bagaimana genom manusia berkembang dan menciptakan pengobatan yang lebih efektif untuk penyakit genetik tertentu.
Dari lima suku yang merupakan anggota tertua dari suku Ju/'hoansi dan suku-suku lain yang tinggal di kawasan laut Namibia, dua orang memiliki genom yang tidak tercampur dengan kelompok etnis lain. Suku Ju/'hoansi terkenal sejak adanya film 'The Gods Must Be Crazy' di tahun 80-an dan 90-an. Menurut Dr Lim Kim Hie, bahwa kelompok ini tampaknya tidak kawin dengan suku tetangga non-Khoisa selama ribuan tahun. Karena orang-orang Khoisa dan manusia modern hidup bersama nenek moyang mereka sekitar 150,000 tahun yang lalu.
Dalam budaya dan tradisi suku Khoisa, perkawinan silang terjadi sangat lama diantara kelompok Khoisa atau hasil perkawinan perempuan yang meninggalkan suku mereka setelah menikah dengan pria non-Khoisa. Bahkan setelah 150,000 tahun, individu tunggal non-campuran atau keturunan mereka yang tidak kawin silang dengan populasi terpisah dapat teridentifikasi dalam populasi Ju/'hoansi.

Prasasti Misterius Dewa Tak Dikenal Ditemukan Di Turki



2014
Arkeolog asal University of Munster baru-baru ini menggali sebuah situs dan menemukan batuan Romawi unik yang menggambarkan dewa. Relief pada prasasti misterius tersebut menggambarkan Dewa tidak dikenal pada sebuah tempat perlindungan kuno di Turki. Prasasti misterius bermotif dewa tak dikenal terbuat dari batu basalt setinggi satu setengah meter digunakan sebagai dinding penopang pada dinding biara, menggambarkan kesuburan atau dewa vegetasi. 
Arkeolog yang tergabung dalam penggalian diantaranya Prof Dr Engelbert Winter dan Dr Michael Blomer dari Cluster of Excellence "Religion and Politics". Temuan ini mengingatkan situs suci dewa Jupiter Dolichenus yang berdekatan dengan kota kuno Doliche di Turki Tenggara. Relief ini memberikan wawasan berharga tentang keyakinan Romawi dan menjadi tradisi diwilayah Near East kuno. 

Prasasti Misterius Bermotif Dewa Kesuburan

Penggalian ini didukung German Research Foundation (Deutsche Forschungsgesellschaft, DFG), Universitas Munster Asia Minor Research Centre. Tim arkeolog yang tergabung melakukan penggalian ditempat utama kuil suci Jupiter Dolichenus dibawah arahan Prof Winter sejak tahun 2001. Sejauh ini, tim ilmuwan telah menemukan fondasi kuno dan tempat suci Romawi serta dari biara Mar Solomon abad pertengahan. 
Di tahun ini, tim arkeolog berhasil menemukan situs kultus yang diperkirakan berusia 2000 tahun. Prasasti misterius bermotif dewa tak dikenal menjadi dinding merupakan tempat suci pertama Zaman Besi atau fondasi candi dewa Jupiter Dolichenus, salah satu dewa paling penting dari Kekaisaran Romawi pada abad ke-2 Masehi. Tempat suci ini terletak dekat dengan kota Gaziantep pada ketinggian 3900 kaki di gunung Duluk Baba Tepesi. Arkeolog menemukan prasasti di reruntuhan biara Kristen yang berdiri dilokasi tempat kudus kuno, Awal Abad Pertengahan.
Jupiter Dolichenus adalah dewa Romawi yang tercipta dari titisan Jupiter, Raja para dewa, dan merupakan kultus Baal di Asia Minor. Dewa Baal merupakan raja dewa dan kombinasi satu dewa dimaksudkan untuk membentuk campuran yang kuat dari tradisi agung timur dan barat. Kuil biasanya tertutup untuk orang luar dan pengikut harus menjalani ritual inisiasi sebelum mereka dapat diterima sebagai umat agama misterius Romawi, sehingga sangat sedikit yang diketahui tentang ibadah sebenarnya.
Beberapa petunjuk yang bisa diperoleh dari ikonografi ini sangat jarang, kultus agama miterius dikenal luas pada abad ke-2 SM, dan mencapai puncaknya dibawah dinasti Severan pada awal abad ke-3. Setidaknya terdapat 17 kuil telah dibangun di provinsi Roma, secara substansial jauh dibawah popularitas Mithras, Isis atau Cybele. Penyembahan Jupiter Dolichenus sangat tertuju pada asal, dan kultus ini menghilang setelah jatuhnya kota Doliche ke Sassanid di abad ke-3 SM.
Prasasti Misterius, Dewa Kesuburan
Agama misteri (Mystery religions) diperkenalkan Yunani-Romawi, karakterisasi utama agama ini adalah kerahasiaan yang terkait dengan keterangan inisiasi. Sementara praktek ritual mungkin tidak diungkapkan kepada orang luar, salah satu misteri yang paling terkenal dari zaman kuno Yunani-Romawi yaitu Misteri Eleusinian, bahkan mendahului Zaman Kegelapan Yunani.
Menurut Prof Winter, prasasti misterius bermotif dewa tak dikenal memberi informasi tentang bagaimana tradisi asli terselamatkan di Zaman Besi melalui orang-orang Romawi.
Blomer menjelaskan bahwa prasasti basal merupakan dewa yang tergambar pada piala dimana unsur-unsur bergambar menunjukkan dewa kesuburan. Gambaran yang paling mencolok berupa ikonografi seperti jenggot atau postur lengan yang mengarah pada penggambaran Zaman Besi. 
Penggalian tahun ini lebih terkonsentrasi pada pencarian biara Mar Solomon yang masih berdiri di abad pertengahan. Reruntuhan biara terawat baik, sehingga berbagai kesimpulan tentang kehidupan dan budaya diwilayah ini berada diantara Zaman Kuno Akhir dan masuknya tentara salib. Pada tahun 2010, arkeolog menemukan reruntuhan biara dan mereka mengetahui hal itu dari sumber tertulis saja. Menurut arkeolog Blomer, semua temuan tahun ini merupakan bagian terpenting yang bisa menjawab misteri biara suci. Sejarah membentang dari awal Zaman Besi dan tempat suci Romawi dikenal diseluruh kekaisaran, dan pemanfaatan jangka panjang sebagai biara Kristen pada saat masuknya tentara salib.
Saat ini arkeolog sedang membuat kompleks situs yang luar biasa dan reruntuhan biara agar bisa diakses masyarakat. Reruntuhan biara diawetkan dan terbungkus dengan bahan khusus, tindakan ini sebagai perlindungan yang didukung Turki Zirve University di Gaziantep, mereka menyediakan sekitar 200,000 Euro untuk proyek tiga tahun. Dokumentasi digital, penggunaan quadrocopter, kendaraan jarak jauh yang dikemudikan dengan kamera 3D, semuanya dikembangkan oleh Institute for Geoinformatics dari Universitas Munster.